TUGAS KESEHATAN
MENTAL
PERTUMBUHAN
PERSONAL
Disusun Oleh :
Lausendha
Rastra A (16514006)
Linassichah
Zulfah (16514077)
Mellyza
Dwi S (16514584)
Nadya
Rizkiyanti R (17514772)
Ratna
Ningtiyas N (18514947)
Risqi
Agus saputra (19514524)
Sujabat
Kartiko S (1A514497)
Kelas : 2PA05
Fakultas
Psikologi
Universitas
Gunadarma
2016
Pembahasan
Kehidupan manusia dihubungkan dalam 2 proses yang terus menerus
dan berkelanjutan. Kedua proses tersebut merupakan pengertian dari pertumbuhan
dan perkembangan. Manusia mempunyai kapasitas jasmanih dan rohaniah sebagai suatu kondisi
yang menuju pada arah kesempurnaan. Menurut Crow dan Crow , kematangan atau
pertumbuhan sejak pembuahan dan seterusnya merupakan gejala alamiah.
Pertumbuhan itu sebagai suatu hasil dari fakor-faktor luar dari individu yang
matang atau tumbuh itu bisa di tunjukan sebagi perkembangan . Definisi
pertumbuhan ialah perubahan secara fisiologis dari hasil proses suau kematangan
funsi-fungsi jasmani sebagai akibat dari adannya pengaruh lingkungan.
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses berubahnya keadaan jasmaniah (fisik)
yang turun-menurun dalam bentuk proses aktif yang berkesinambungan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan diri merupakan
perubahan atau perkembangan dalam arah yang diharapkan atau diinginkan.
Bertumbuh sebagai individu berarti menjadi lebih penuh pemahaman, kompeten, dan
penuh perhatian pada sesama. Proses dan perubahan dalam menuju pertumbuhan diri
sangat bervariasi tergantung: kebutuhannya, nilai-nilai yang dianut, serta
perkembangan di masa lampau.
Berikut adalah konsep yang berkaitan dengan
pertumbuhan personal :
1.
Penekanan Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah
perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi
fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang
normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari
konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam
bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan
perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh
Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis,
perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai
keadaan dimana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara
bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak.
Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi
semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
2.
Penyesuaian diri dan pertumbuhan
Penyesuaian diri merupakan
suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan, karenamemiliki
banyak arti dan tidak memiliki patokan jelas untuk menilai nya. Menurut
Kartono, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada
diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi,
dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang
efisien bisa dikikis. Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah
kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula
mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri.
Pengertian penyesuaian
diri adalah proses yang diharapi oleh individu dalam mengenal lingkungan yang
baru. Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan
kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk
mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Menurut Callhoun dan Acocella
(dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi individu
yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia
individu. Menurut pandangan para ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara
konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik
mengingat individu secara konstan juga mempengaruhi kedua faktor lain.
Menurut Schneiders (1964), pengertian
penyesuaian diri dapat ditiinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
1. Penyesuaian sebagai adaptasi
--- Menurut pandangan ini, penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha
mempertahankan diri secara fisik, bukan penyesuaian dalam arti psikologis,
sehingga ada kompleksitas kepribadian individu dengan lingkungan yang
terabaikan.
- Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas --- Penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pengertian ini menyiratkan bahwa individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial maupun emosional. Menurut sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan diri individu akan terancam tertolak jika perilaku individu tidak sesuai dengan norma yang berlaku.
- Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan --- Penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan untuk merencakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi, dengan kata lain penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan emosi dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah.
Berdasarkan tiga sudut pandang tentang penyesuaian diri yang
disebut diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan
sebagai suatu proses yang mencakup suatu respon-respon mental dan perilaku yang
diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan
internal, ketegangan, frustasi, konflik serta untuk menghasilkan kualitas
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari dunia
luar atau lingkungan tempat individu berada (Ali & Asrori, 2004).
3. Variasi Dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan yang di alami dan terjadi pada diri
individu bervariasi, pasti tidaklah sama
antara
individu yang satu dengan yang lain. Dan tidak
selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak
berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat
dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa
adanya variasi dalam pertumbuhan. Variasi Pertumbuhan mencakup Kematangan
emosional, kematangan intelektual, kematangan sosial dan Tanggung jawab dalam
hubungan intrapersonal.
4.
Kondisi dan tahapan memulai pertumbuhan
Faktor lainnya yang memengaruhi proses penyesuaian diri
individu yaitu kondisi
untuk tumbuh dimana dapat dilihat dari
jawaban atas pertanyaan “dimana dan seperti apa
kondisi individu untuk tumbuh?”
Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan kondisi
individu untuk bertumbuh yang berbeda, sehingga menyebabkan penyesuaian diri untuk kondisi
lingkungan untuk tumbuh itu juga akan berbeda. Misalkan lingkungan dengan
kondisi yang serba berkecukupan, kasih sayang yang diberikan orang tua
berlimpah, pola asuh yang demokratis yang diterapkan oleh orang tua juga akan
menciptakan penyesuaian diri dengan kondisi bertumbuh yang berbeda dengan
kondisi lingkungan dimana kebutuhan ekonomi terkecukupi dengan baik, tetapi
kasih sayang yang diberikan dari orang tua ke individu tersebut kurang serta
adanya perasaan bahwa dia diabaikan oleh orang tua nya. Walaupun dari tingkat
yang sama dilihat dari ekonomi yang setingkat, akan tetapi banyak faktor lain
yang membuat penyesuaian diri pada individu menjadi lebih kompleks. Apalagi
jika dibandingkan dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih rendah, maka
penyesuaian diri sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh yang lain pun akan
berbeda untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang pelik ini.
Ada beberapa
kondisi yang memberi pengaruh besar bagi pertumbuhan diri, yaitu:
perubahan
fisik dan lingkungan, peristiwa hidup yang signifikan, perubahan dalam diri
individu, serta kehidupan pribadi. Tiga fase dalam mengawali pengalaman
bertumbuh :
a.
Menyatakan (perlu/ adanya/ mesti) perubahan
b.
Merasakan adanya situasi yang
terganggu atau ketidakpuasan seperti: rasa khawatir, cemas, dan tidak nyaman
.Menata ulang pengalaman, dengan memulai persepsi baru dan penerimaan diri
Kierkegaard: “Dalam hidup sangatlah penting untuk memahaminya dengan kembali ke
belakang, tetapi kita haruslah tetap hidup dengan pandangan ke depan”
Faktor
yang mempengaruhi Pertumbuhan diri yaitu:
1)
Faktor Biologis/genetis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki
anggota tubuh yang baik seperti tangan, kaki, kepala, dan lain lain. Hal ini
dapat menjelaskan bahwa beberapa kesamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun
ada juga warisan biologis yang bersifat khusus yang dilihat dari masa konsepsi,
bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupannya, menentukan beberapa
karakteristik seperti jenis kelamin, ras, warna rambut, warna mata, pertumbuhan
fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti tempramen, potensi
genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara
positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
2)
Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan
membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar
individu bisa berjalan dengan baik dan menimbulkan kepribadian setiap individu
yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya
hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang
tidak baik pula.
3)
Faktor Kebudayaan
Khusus perbedaan kebudayaan dapat
mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang
ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki
kepribadian yang sama juga.
Dari semua faktor-faktor di atas pengaruh
dari lingkungan seperti keluarga, maupun
masyarakat
akan memberikan dampak pertumbuhan bagi individu. Seiring berjlanannya waktu
maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitar.
5. Fenomenalogi Pertumbuhan
Fenomenologi
memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi
dan diinterpretasi secara
subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam
pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer,
1983). Fenomenologi banyak
mempengaruhi tulisan – tulisan Carl Rogers.
Carl
Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam
suatu hubungan :
a. Keikhlasan
kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
b. Menghormati
keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan
c. Keinginan
yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Dalam
tulisan-tulisan carl roger terdapat fenomenologi.
1.
“Tiap individu ada dalam
dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi pusatnya”
2. "Individu
bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi
individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)“
3. “Individu bereaksi terhadap medan
phonomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)“
4. “Organisme
mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan,
mempertahankan, dan mengembangkan diri.“
5. “Pada
dasarnya tingkah laku itu adalah usaha individu yang berarah tujuan (goal
directed, doelgericht), yaitu untuk memuaskan kebutuhan –kebutuhan sebagaiana
dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatainya.“
DAFTAR PUSTAKA
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta : PT. Kanisius (Anggota IKAPI)
Semium, Yustinus (2006) Kesehatan mental 1. Yogyakarta:
PT. Kanisius

Tidak ada komentar:
Posting Komentar