Kamis, 31 Maret 2016

Pertumbuhan Personal (Kelompok 9)



TUGAS KESEHATAN MENTAL
PERTUMBUHAN PERSONAL





Disusun Oleh :


Jesicca Adella (1C514767)
Lausendha Rastra A (16514006)
Linassichah Zulfah (16514077)
Mellyza Dwi S (16514584)
Nadya Rizkiyanti R (17514772)
Ratna Ningtiyas N (18514947)
Risqi Agus saputra (19514524)
Sujabat Kartiko S (1A514497)
Kelas : 2PA05

Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
2016


Pembahasan

Kehidupan manusia dihubungkan dalam 2 proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Kedua proses tersebut merupakan pengertian dari pertumbuhan dan perkembangan. Manusia mempunyai kapasitas jasmanih dan rohaniah sebagai suatu kondisi yang menuju pada arah kesempurnaan. Menurut Crow dan Crow , kematangan atau pertumbuhan sejak pembuahan dan seterusnya merupakan gejala alamiah. Pertumbuhan itu sebagai suatu hasil dari fakor-faktor luar dari individu yang matang atau tumbuh itu bisa di tunjukan sebagi perkembangan . Definisi pertumbuhan ialah perubahan secara fisiologis dari hasil proses suau kematangan funsi-fungsi jasmani sebagai akibat dari adannya pengaruh lingkungan. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses berubahnya keadaan jasmaniah (fisik) yang turun-menurun dalam bentuk proses aktif yang berkesinambungan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan diri merupakan perubahan atau perkembangan dalam arah yang diharapkan atau diinginkan. Bertumbuh sebagai individu berarti menjadi lebih penuh pemahaman, kompeten, dan penuh perhatian pada sesama. Proses dan perubahan dalam menuju pertumbuhan diri sangat bervariasi tergantung: kebutuhannya, nilai-nilai yang dianut, serta perkembangan di masa lampau.
Berikut adalah konsep yang berkaitan dengan pertumbuhan personal :

1.     Penekanan Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan dimana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

2.     Penyesuaian diri dan pertumbuhan
Penyesuaian diri merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan, karenamemiliki
banyak arti dan tidak memiliki patokan jelas untuk menilai nya. Menurut Kartono, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri.
Pengertian penyesuaian diri adalah proses yang diharapi oleh individu dalam mengenal lingkungan yang baru. Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu. Menurut pandangan para ahli diatas, ketiga faktor tersebut secara konstan mempengaruhi individu dan hubungan tersebut bersifat timbal balik mengingat individu secara konstan juga mempengaruhi kedua faktor lain.
Menurut Schneiders (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditiinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
1.     Penyesuaian sebagai adaptasi --- Menurut pandangan ini, penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik, bukan penyesuaian dalam arti psikologis, sehingga ada kompleksitas kepribadian individu dengan lingkungan yang terabaikan.
  1. Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas --- Penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pengertian ini menyiratkan bahwa individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial maupun emosional. Menurut sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan diri individu akan terancam tertolak jika perilaku individu tidak sesuai dengan norma yang berlaku.
  2. Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan --- Penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan untuk merencakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi, dengan kata lain penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan emosi dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah.
Berdasarkan tiga sudut pandang tentang penyesuaian diri yang disebut diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang mencakup suatu respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari dunia luar atau lingkungan tempat individu berada (Ali & Asrori, 2004).

3.     Variasi Dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan yang di alami dan terjadi pada diri individu bervariasi, pasti tidaklah sama
antara individu yang satu dengan yang lain. Dan tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa adanya variasi dalam pertumbuhan. Variasi Pertumbuhan mencakup Kematangan emosional, kematangan intelektual, kematangan sosial dan Tanggung jawab dalam hubungan intrapersonal.

4.     Kondisi dan tahapan memulai pertumbuhan
Faktor lainnya yang memengaruhi proses penyesuaian diri individu yaitu kondisi
untuk tumbuh dimana dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan  “dimana dan seperti apa kondisi individu untuk tumbuh?”
Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan kondisi individu untuk bertumbuh yang berbeda, sehingga menyebabkan penyesuaian diri untuk kondisi lingkungan untuk tumbuh itu juga akan berbeda. Misalkan lingkungan dengan kondisi yang serba berkecukupan, kasih sayang yang diberikan orang tua berlimpah, pola asuh yang demokratis yang diterapkan oleh orang tua juga akan menciptakan penyesuaian diri dengan kondisi bertumbuh yang berbeda dengan kondisi lingkungan dimana kebutuhan ekonomi terkecukupi dengan baik, tetapi kasih sayang yang diberikan dari orang tua ke individu tersebut kurang serta adanya perasaan bahwa dia diabaikan oleh orang tua nya. Walaupun dari tingkat yang sama dilihat dari ekonomi yang setingkat, akan tetapi banyak faktor lain yang membuat penyesuaian diri pada individu menjadi lebih kompleks. Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih rendah, maka penyesuaian diri sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh yang lain pun akan berbeda untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang pelik ini.
 Ada beberapa kondisi yang memberi pengaruh besar bagi pertumbuhan diri, yaitu:
perubahan fisik dan lingkungan, peristiwa hidup yang signifikan, perubahan dalam diri individu, serta kehidupan pribadi. Tiga fase dalam mengawali pengalaman bertumbuh :
a.      Menyatakan (perlu/ adanya/ mesti) perubahan
b.      Merasakan adanya situasi yang terganggu atau ketidakpuasan seperti: rasa khawatir, cemas, dan tidak nyaman .Menata ulang pengalaman, dengan memulai persepsi baru dan penerimaan diri Kierkegaard: “Dalam hidup sangatlah penting untuk memahaminya dengan kembali ke belakang, tetapi kita haruslah tetap hidup dengan pandangan ke depan”
Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan diri yaitu:
1)     Faktor Biologis/genetis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang baik seperti tangan, kaki, kepala, dan lain lain. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa kesamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada juga warisan biologis yang bersifat khusus yang dilihat dari masa konsepsi, bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupannya, menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, warna rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti tempramen, potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
2)     Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan menimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3)     Faktor Kebudayaan
Khusus perbedaan kebudayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga.
Dari semua faktor-faktor di atas pengaruh dari lingkungan seperti keluarga, maupun
masyarakat akan memberikan dampak pertumbuhan bagi individu. Seiring berjlanannya waktu maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

5.     Fenomenalogi Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang  dipersepsi
dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan – tulisan Carl Rogers.
Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
a.      Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
b.     Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan  
c.      Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Dalam tulisan-tulisan carl roger terdapat fenomenologi.
1.     “Tiap individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi pusatnya”
2.     "Individu bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)“
3.       “Individu bereaksi terhadap medan phonomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)“
4.      “Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri.“
5.      “Pada dasarnya tingkah laku itu adalah usaha individu yang berarah tujuan (goal directed, doelgericht), yaitu untuk memuaskan kebutuhan –kebutuhan sebagaiana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatainya.“



DAFTAR PUSTAKA

Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta : PT. Kanisius (Anggota IKAPI)
Semium, Yustinus (2006) Kesehatan mental 1. Yogyakarta: PT. Kanisius