Selasa, 13 Januari 2015

Hubungan Antara Budaya dan Agama



Nama: Lausendha Rastra Ahnie
Npm: 16514006
Kelas: 1PA 06

BAB I
PENDAHULUAN


a.      Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan karena terdiri dari beberapa kepulauan dan berbagai aneka ragam budaya dan Agama. Keagamaan dan Kebudayaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Agama selalu dikatakan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa Alam Semesta beserta isinya, sedangkan kebudayaan itu produk manusia. Penggabungan kata agama dan kebudayaan, akan melahirkan agama kebudayaan dan kebudayaan agama. Keduanya sangat berbeda.
Lalu bila ada pertanyaan, mana yang lebih dahulu ada kebudayaan atau agama? Pertanyaan ini tidak dapat disamakan dengan mana terlebih dahulu ada telur atau ayamnya. Pastinya jawabannya adalah kebudayaan. Kebudayaanlah yang lebih dahulu ada daripada agama. Bukti-bukti mendukung pendapat ini, hingga saat ini masih ditemukan yaitu masih ada masyarakat yang belum beragama, namun mempunyai kebudayaan.
Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
Demi terjaganya esistensi dan kesucian nilai – nilai agama sekaligus memberi pengertian, disini saya hendak mengulas mengenai Apa itu Agama dan Apa itu Budaya, yang tersusun berbentuk makalah dengan judul “Agama dan Budaya”. Penulis berharap apa yang diulas, nanti dapat menjadi paduan pembaca dalam mengaplikasikan serta dapat membandingkan antara Agama dan Budaya.

b.      Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari Kebudayaan ?
2.      Apakah pengertian dari Agama ?
3.      Apakah macam - macam agama ?
4.      Bagaimana hubungan agama terhadap kebudayaan?
5.      Bagaimana proses terjadinya akulturasi antara Islam dan budaya Nusantara?

c.       TUJUAN
1.         Untuk mengetahui pengertian agama.
2.         Untuk mengetahui pengertian kebudayaan.
3.         Untuk mengetahui hubungan agama dan kebudayaan
4.         Untuk mengetahui penerapan hubungan agama dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari.
5.         Untuk memenuhi tugas Ilmu Budaya Dasar


BAB II
PEMBAHASAN


1.      Pengertian Kebudayaan
Untuk memahami Kebudayaan maka kita perlu memahami apa itu Kebudayaan. Kebudayaan itu ibarat sebuah lensa. Bayangkan saja jika Anda sedang menggunakan lensa untuk melihat sesuatu objek maka Anda akan melihat satu fokus tertentu, dari fokus itulah anda akan mendidik objek yang sangat tepat. Objek itu bisa manusia atau binatang, benda atau bahkan gagasan, termaksud gagasan tentang dunia sekeliling. Pertanyaan adalah apakah mungkin seseorang dapat melihat suatu objek tertentu secara lebih tajam tanpa menggunakan lensa? Tentu saja bisa, artinya dia akan memandang dunia apa adanya, artinya dunia sebagai fakta tanpa fokus tertentu. Tetapi, kalau kita memandang sesuatu dari sudut pandang kebudayaan maka kita menjadikan kebudayaan sebagai lensa artinya sebuah pandangan yang tepat, dan kebudayaan mengajarkan kepada kita untuk memandang sesuatu secara terfokus, secara tajam.
Betapa sering awam memberikan arti kebudayaan dengan cara yang sangat sederhana. Ada yang mengatakan kebudayaan itu merupakan seni, padahal patut diingat bahwa kebudayaan bukan sekedar sebuah seni saja, kebudayaan melebihi seni itu sendiri karena kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam kehidupan antar manusia. Kebudayaan itu mempengaruhi nilai-nilai yang dimiliki manusia, bahkan mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Dengan kata lain, semua manusia merupakan aktor kebudayaan karena manusia bertindak dalam lingkup kebudayaan.
Saya akan mengutip beberapa definisi kebudayaan sebagai berikut: Pertama, Iris Varner dan Linda Bea Mer, dalam Intercultural Comunication in the Global Workplace, mengatakan Kebudayaan sebagai pandangan yang Koheren tentang sesuatu yang dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang. Pandangan itu berisi apa yang mendasari kehidupan, apa yang menjadi derajat kepentingan, tentang sikap mereka yang tepat terhadap sesuatu, gambaran atau perilaku yang harus diterima oleh atau yang berkaitan dengan orang lain ( dikutip dari Noor Hayati Ismail, 2001)
Kedua, Kebudayaan dalam arti yang luas adalah perilaku yang telah tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan secara sosial tidak sekedar sebuah catatan ringkas, tetapi dalam bentuk perilaku melalui pembelajaran sosial.
Ketiga, Kebudayaan adalah komunikasi simbolis, simbolisme itu adalah keterampilan kelompok, pengetahuan, sikap, nilai dan motif. Maka dari simbol simbol itu dipelajari dan disebar luaskan dalam masyarakat melalui institusi.

2.      Pengertian Agama
Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata A yang berarti tidak dan GAMA berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah suatu peraturan yang menghindarkan manusia dari segala kekacauan, serta mengantarkan manusia menuju keteraturan dan ketertiban.
Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu A yang berarti tidak, dan GAMA yang berarti pergi, tetap di tempat, kekal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dalam agama pun terkandung nilai - nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran A hanya memberi sifat tentang kekekalan dan karena itu merupakan bentuk dari keadaan yang kekal.
Ada juga  yang menyatakan bahwa agama terdiri dari tiga suku kata, yaitu: a-ga-ma. A berarti awang-awang , kosong atau hampa. Ga berarti tempat yang dalam bahasa Bali disebut genah. Sementara ma berarti matahari, terang atau sinar. Dari situ lalu diambil satu pengertian bahwa agama adalah pelajaran yang menguraikan tata cara yang semuanya penuh misteri karena Tuhan dianggap bersifat rahasia.
Kata tersebut juga kerap berawalan i dan atau u, dengan demikian masing-masing berbunyi igama  dan ugama. Sebagian para ahli menyatakan bahwa agama-igama-ugama adalah kosa kata yang telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Bali. Orang Bali memaknai agama sebagai peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia dengan raja. Sedangkan igama adalah tata cara yang mengatur hubungan manusia dengan dewa-dewa. Sementara ugama dipahami sebagai tata cara yang mengatur hubungan antar manusia.
Selain itu, dikenal pula istilah religion bahasa Inggris, religio atau religi  dalam bahasa Latin, al-din dalam bahasa Arab, dan dien dalam bahasa Semit. Kata-kata itu ditengarai memiliki kemiripan makna dengan kata “agama” yang berasal dari bahasa Sansekerta itu. Religious (Inggris) berarti kesalehan, ketakwaan, atau sesuatu yang sangat mendalam dan berlebih-lebihan. Yang lain menyatakan bahwa religion adalah:
a.       keyakinan pada Tuhan atau kekuatan supramanusia untuk disembah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta.
b.       sistem kepercayaan tertentu.
Maksud dari agama ialah untuk mempersatukan segala pemeluk-pemeluknya dan mengikat mereka dalam suatu ikatan yang erat sehingga merupakan batu pembangunan atau mengingat bahwa, hukum - hukum agama itu dibukukan atau didewankan.

Hadits memberikan suatu pengertian bahwa ada lima unsur yang perlu mendapat perhatian bisa memperoleh gambaran tentang apa yang dimaksud dengan agama yang jelas serta utuh. Kelima unsur itu adalah:
1.      Allah
2.      Kitab
3.      Rasul
4.      Pemimpin dan umat,
5.      Baik mengenai arti masing-masing maupun kedudukan serta hubungannya satu dengan yang lainnya.
Mukti Ali mengatakan bahwa, agama adalah percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada utusan-nya bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Mukti Ali membatasi pengertian agama kepada kepercayaan dan hukum. Mehdi Ha’iri Yazdi berpendapat bahwa, agama adalah kepercayaan kepada yang Mulak atau Kehendak Mutlak sebegai keperdulian tertinggi. Pengertian ini menjadikan Tuhan sebagai fokus perhatian dan keperdulian tertinggi agama sehingga, agama cenderung mengabaikan persoalan tentang kemanusiaan. Agama akhirnya bersifat teosentris, tanpa perhatian yang cukup terhadap soal - soal kemiskinan dan keterbelakangan suatu umat.
Harun Nasution mengemukakan berbagai pengertian tentang agama yang dikemukakan sejumlah ahli, yaitu:
1)      Pengakuan terhadap adanya suatu hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi
2)      Pengakuan terhadap adanya suatu hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang selalu menguasai manusia
3)      Mengikatkan diri  pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia
4)      Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu
5)      Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari suatu kekuatan gaib
6)      Pengakuan terhadap adanya suatu kewajiban - kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan gaib.
7)      Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat di alam sekitar manusia
8)      Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

3.      Macam-macam Agama
1.      Islam
Dari segi Bahasa (lughat), agama berasal dari Arab, yaitu ad-din. Sedangkan islam dalam bahasa Arab-nya berarti aslama-yuslimu-islaman yang bisa diartikan dengan keselamatan dan kesejahteraan. Bisa pula islam berarti sulammun, yatitu tangga, jenjang ke atas. Islam bisa pula di artikan dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Dari segi Istilah (terminologi), Agama islam adalah seluruh ajaran dan hukum – hukumnya yang terdapat di dalam Al-quran yang diturnkan oleh Allah SWT, yang di wahyukan kepada Rosul-nya, yaitu Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan dan di dakhwakan kepada segenap umat manusia sehingga manusia yang ada di muka bumi ini akan memperoleh banyak kebahagiaan hakiki dan bermakna sangat baik ketika hidup di dunia maupun hidup di akhirat.
2.      Kristen
Agama Kristen adalah pengalaman terpimpin dalam tugas hidup secara kristiani, yang di dalamnya pelajar yang semakin bertumbuh, di tolong menafsirkan dan mempertimbangkan suatu keadaan hidup nyata yang diperhadapkan kepadanya oleh setiap bagian kehidupan sehari – hari. Ia melaksanakan tugas tersebut dengan memanfaatkan suatu sumber pengalaman keagamaan yang di peroleh umat manusia sepanjang abad, agar menghasilkan gaya hidup yang bersifat kristen. Dari tolok ukur ini, materi belajar terdiri atas tiga unsur:

a.       Pengalaman kekinian dari pelajar sendiri sebagai dasar
b.      Pengalamannya pada masa lampau
c.       Segala pengalaman keagamaan yang umat manusia rekam dalam kitab – kitab suci-nya di sepanjang abad, khususnya yang terdapat dalam Al-kitab.
3.      Hindu
Dalam keyakinan Agama Hindu, istilah alam semesta atau alam raya lebih dikenal dengan istilah Bhuwana Agung yang di dalamnya terdapat berjuta – juta binatang, planet – planet, matahari, bulan dan lain lain-nya. Salah satu planet yang paling dekat dan paling penting untuk di ketahui adalah planet bumi, karena di planet bumi ini tempat manusia, binatang dan tumbuh – tumbuhan yang hidup, tumbuh dan berkembang biak.
Agama Hindu menurut para ahli, yaitu para maharsi yang menceritakan dalam Weda, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan yang bergelar Brahman. Brahman ini lah yang dipandang oleh umat Hindu sebagai Tat Yang Agung dan Yang Maha Mulia. Dari Yang Agung ini lah kemudia mulai muncul alam semesta ini dan Beliau ulalah sebagai pelindung dan atas kehendak Beliau alam ini dan alam ini akan mengalami kehancuran atau Pralaya. Adapun tujuan Brahman atau Tuhan menciptakan alam semesta ini adalah sebagai tempat hidup makhluk hidup terutama manusia, sehingga dapat menikmati kehidupan dalam hidupnya.
4.      Budha
Agama Budha Mahayana adalah bentuk sistematis dari teori Agama Budha asli. Terbentuk agama ini kira – kira pada tahun 1 sebelum Masehi. “Maha” berarti besar dan “Yana” berarti kereta kuda. “Mahayana” memiliki kata lain, yaitu kereta yang digunakan untuk mencapai dunia pencerahan dari dunia ini. Arti “Maha” di cirikan dengan ajaran – ajaran oleh “Bodissatta” (bosatu). Semuala adalah “Bodhisattfa”, yang artinya jenis pemahaman yang datang bersama pencerahan Buddha, atau mencari suatu pencerahan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk menyelamatkan semua makhluk yang hidup
Selanjutnya, pengertian yang lain ditambahkan kepada konsep “ Bodhisattfa” bahwa pencapaian suatu keBuddha-an di asosiasikan dengan penyelamatan semua makhluk hidup. Konsep “Tathagatagarbha” ini berdasarkan keyakinan bahwa semua yang hidup bisa menjadi buddha.
Kata sansekerta yang asli untuk “Garbha” dalam “Tathagatagarbha”, pada dasarnya memiliki dua arti: yang pertama yang artinya rahim, yang kedua artinya janin. Jadi dapat di terjemahkan menjadi “Rahim yang memeluk Janin Buddha” atau “Janin Buddha yang memeluk Rahim. Tafsiran ini menyingkapkan arti sejati agama Buddha, khususnya dengan di gunakannya kata – kata yang menggambarkan segala fungsi jasmania perempuan untuk ungkapan tersebut.
5.      Konghucu
Kitab suci Agama Konghucu adalah kitab yang berisikan ajaran moral yang dapat dijadikan pandangan hidup bagi para pengikut – pengikutnya. Disamping ini berisikan ajaran moral, kitab suci suatu agama juga disucikan oleh para pengikut - pengikutnya, dihormati dan dijaga ontentisitasnya atau keaslian isinya. .... begitu juga dengan Agama Konghucu, agama ini juga memiliki Kitab suci. Kitab – kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan beragama umat konghucu adalah Su Si dan Wu Cing
Sembahyang mengucapkan syukur setiap pagi, sore, saat ,menerima Rezeki (Makanan). Umat konghucu pada pagi hari, sore, dan saat menerima Rezeki melakukan sembahyang kepada Thian. Kemudian kebaktian kepada Nabi Konghucu, kebaktiaan untuk para suci, sembahyang bagi leluhur dan kebaktian kemasyarakatan.
6.      Yahudi
Orang yahudi adalah anak Adam sebagaimana juga anak – anak bukan dari umat Yahudi. Semua orang bisa menjadi umat Yahudi, semua orang bisa masuk di agama Yahudi. Yudaisme terbuka bagi siapa saja yang mau masuk. Namun tertutup bagi siapa saja yang akan meninggalkan Agama ini. Secara prinsip tidak ada satu orang pun yang bisa berhenti menjadi orang Yahudi. Setiap orang Yahudi, yang lahir dari ibu Yahudi atau yang masuk ke dalam agama Yahudi, adalah seorang Yahudi dan akan tetap begitu. Sekira seorang Yahudi masuk ke agama lain, dia tetap saja menjadi seorang Yahudi. Sekali pun ia sekarang dijuluki sebagai orang Yahudi yang Murtad.

4.      Hubungan antara Agama dan Kebudayaan
Para antropolog dan sejarawan menganggap bahwa agama itu merupakan bagian dari kebudayaan. Karena memandang kebudayaan sebagai titik sentral kehidupan manusia, dan mereka tidak membedakan antara agama / kepercayaan yang lahir dari keyakinan masyarakat tertentu, dengan adanya agama yang berasal dari wahyu tuhan kepada Rosul-nya. Sedangkan para agamawan, umumnya memandang agama sebagai sumber dari titik sentral kehidupan manusia, terutama yang ada kaitannya dengan system keyakinan dan system peribadatan. Agama mempunyai pokok-pokok ajaran yang mengikat pemeluknya, diantara ajaran - ajaran tersebut ada yang bersifat dogmatis (inti keyakinan), yang tidak mungkin ditukar dengan tradisi dan system kebudayaan yang berlawanan. Meskipun demikian, dalam agama terdapat ruang yang memungkinkan adanya penyesuaian atau penyerapan antara agama dengan tradisi dan budaya yang sangat berlaku di suatu masyarakat. Disana terjadi proses saling mengisi, saling mewarnai dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Hubungan antara agama dan kebudayaan memang tidak selalu harmonis. Sedikitnya ada empat kategori hubungan antara agama dengan kebudayaan, dengan meminjam suatu resep pengamatan dari Prof. G. Van Der Leeuw sebagai berikut :
a.              Agama dan kebudayaan yang saling menyatu.
b.              Agama dan kebudayaan yang renggang.
c.              Agama dan kebudayaan yang terpisah.
d.             Agama dan kebudayaan yanng saling mengisi.
Dengan demikian menjadi jelas, bahwa hubungan antara agama dan kebudayaan tidak bersifat statis, tetapi berkembang secara dinamis dalam perjalanan sejarah. Walaupun pengamatan dari Prof. G. Van Der Leeuw tadi mencerminkan pengalaman dari masyarakat Barat yang modern, namun pengamatan itu dapat kita ambil sebagai manfaat juga dalam mempelajari suatu perkembangan di negara kita.

5.      Proses Akulturasi antara Islam dengan Kebudayaan Indonesia
Contoh wujud bentuk akulturasi budaya islam dengan Kebudayaan Indonesia, terbagi dari 3 bentuk yaitu:
Ø  Bidang Bangunan, contohnya: Masjid
Cirinya: atap tumpang pondasi agak tinggi, adanya parid atau kolam, adanya serambi, bedug, kaligrafi, menara dan gerbang
Ø  Makam
Cirinya: cungkum atau (rumah makam). Ditempat tinggal, nisan, sebuah hiasan dan tulisan kaligrafi
Ø  Seni Sastra
·         HIKAYAT
Cerita ataupun dongeng dari sebuah karya sastra melayu berbentuk prosa yang memuat sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang tidak masuk akal sering bertitik tolak dari peristiwa bersejarah, contohnya: Amir Hamza, Hikayat simiskin
·         Babad
Cerita sebuah sejarah yang lebih bersifat dongeng merupakan sebuah rekaan pujangga keraton yang dianggap sebagai peristiwa yang sangat bersejarah, contohnya: babad tanah Jawa dan babad Cirebon.
·         Suluk
Sebuah kitab yang mencerminkan sebuah masalah tasawuf yaitu jalan ke arah kesempurnaan batin, contohnya: suluk sukarsa, suluk wujil dan malang sumbing
·         Primbon
Sebuah ramalan – ramalan yang berasal dari jawa




BAB III
PENUTUP


A.      SIMPULAN
Pengertian kebudayaan adalah Kebudayaan dalam arti yang luas adalah perilaku yang telah tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan secara sosial tidak sekedar sebuah catatan ringkas, tetapi dalam bentuk perilaku melalui pembelajaran sosial.
Pengertian agama Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata A yang berarti tidak dan GAMA berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah suatu peraturan yang menghindarkan manusia dari segala kekacauan, serta mengantarkan manusia menuju keteraturan dan ketertiban. Macam-macam agama di indonesia adalah islam,kristen,yahudi,katolik,konghucu,yahudi. Hubungan agama dan kebudyaan adalah karena memandang kebudayaan sebagai titik sentral kehidupan manusia, dan mereka tidak membedakan antara agama / kepercayaan yang lahir dari keyakinan masyarakat tertentu, dengan adanya agama yang berasal dari wahyu tuhan kepada Rosul-nya. Sedangkan para agamawan, umumnya memandang agama sebagai sumber dari titik sentral kehidupan manusia, terutama yang ada kaitannya dengan system keyakinan dan system peribadatan. Proses Akulturasi antara Islam dengan Kebudayaan yaitu bidang bangunan, makam, seni sastra, hikayat, babad, suluk, primbon.



DAFTAR PUSTAKA


-          Kurniawan Beni, 2007. Pendidikan agama islam, PTA.
-          Boehlke Richard, 2009. Sejarah Perkembangan pikiran dan praktek pendidikan agama kristen. Jakarta: gunung agung
-          Wayan I, 2007. Agama Hindu SMP. Jakarta: ganeca exact
-          Becher jeanne, 2004. Perempuan dan agama. Jakarta: gunung mulia
-          Supriatna nana dkk, 2006. Ilmu pengetahuan sosial.
-          Geertz, Clifford. (1992). Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta :  Kanisius  
-     Hamka. (1975).  Sejarah Umat Islam IV. Jakarta : Bulan Bintang.