Nama: Lausendha Rastra Ahnie
Npm: 16514006
Kelas: 1PA 06
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar
Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan
karena terdiri dari beberapa kepulauan dan berbagai aneka ragam budaya dan
Agama. Keagamaan dan Kebudayaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Agama
selalu dikatakan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa Alam Semesta
beserta isinya, sedangkan kebudayaan itu produk manusia. Penggabungan kata
agama dan kebudayaan, akan melahirkan agama kebudayaan dan kebudayaan agama.
Keduanya sangat berbeda.
Lalu bila ada pertanyaan, mana yang lebih dahulu ada
kebudayaan atau agama? Pertanyaan ini tidak dapat disamakan dengan mana
terlebih dahulu ada telur atau ayamnya. Pastinya jawabannya adalah kebudayaan.
Kebudayaanlah yang lebih dahulu ada daripada agama. Bukti-bukti mendukung
pendapat ini, hingga saat ini masih ditemukan yaitu masih ada masyarakat yang
belum beragama, namun mempunyai kebudayaan.
Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan
agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai
hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup
pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
Demi terjaganya esistensi dan kesucian nilai – nilai
agama sekaligus memberi pengertian, disini saya hendak mengulas mengenai Apa
itu Agama dan Apa itu Budaya, yang tersusun berbentuk makalah dengan judul
“Agama dan Budaya”. Penulis berharap apa yang diulas, nanti dapat menjadi
paduan pembaca dalam mengaplikasikan serta dapat membandingkan antara Agama dan
Budaya.
b. Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian dari Kebudayaan ?
2.
Apakah pengertian dari Agama ?
3.
Apakah macam - macam agama ?
4.
Bagaimana hubungan agama terhadap
kebudayaan?
5.
Bagaimana proses terjadinya akulturasi
antara Islam dan budaya Nusantara?
c. TUJUAN
1.
Untuk mengetahui pengertian agama.
2.
Untuk mengetahui pengertian
kebudayaan.
3.
Untuk mengetahui hubungan agama dan
kebudayaan
4.
Untuk mengetahui penerapan hubungan
agama dan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari.
5.
Untuk memenuhi tugas Ilmu Budaya
Dasar
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Kebudayaan
Untuk
memahami Kebudayaan maka kita perlu memahami apa itu Kebudayaan. Kebudayaan itu
ibarat sebuah lensa. Bayangkan saja jika Anda sedang menggunakan lensa untuk
melihat sesuatu objek maka Anda akan melihat satu fokus tertentu, dari fokus
itulah anda akan mendidik objek yang sangat tepat. Objek itu bisa manusia atau
binatang, benda atau bahkan gagasan, termaksud gagasan tentang dunia
sekeliling. Pertanyaan adalah apakah mungkin seseorang dapat melihat suatu
objek tertentu secara lebih tajam tanpa menggunakan lensa? Tentu saja bisa,
artinya dia akan memandang dunia apa adanya, artinya dunia sebagai fakta tanpa
fokus tertentu. Tetapi, kalau kita memandang sesuatu dari sudut pandang
kebudayaan maka kita menjadikan kebudayaan sebagai lensa artinya sebuah
pandangan yang tepat, dan kebudayaan mengajarkan kepada kita untuk memandang
sesuatu secara terfokus, secara tajam.
Betapa
sering awam memberikan arti kebudayaan dengan cara yang sangat sederhana. Ada
yang mengatakan kebudayaan itu merupakan seni, padahal patut diingat bahwa
kebudayaan bukan sekedar sebuah seni saja, kebudayaan melebihi seni itu sendiri
karena kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam kehidupan antar manusia.
Kebudayaan itu mempengaruhi nilai-nilai yang dimiliki manusia, bahkan
mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Dengan kata lain, semua manusia
merupakan aktor kebudayaan karena manusia bertindak dalam lingkup kebudayaan.
Saya akan
mengutip beberapa definisi kebudayaan sebagai berikut: Pertama, Iris Varner dan
Linda Bea Mer, dalam Intercultural Comunication in the Global Workplace,
mengatakan Kebudayaan sebagai pandangan yang Koheren tentang sesuatu yang
dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang.
Pandangan itu berisi apa yang mendasari kehidupan, apa yang menjadi derajat
kepentingan, tentang sikap mereka yang tepat terhadap sesuatu, gambaran atau
perilaku yang harus diterima oleh atau yang berkaitan dengan orang lain (
dikutip dari Noor Hayati Ismail, 2001)
Kedua, Kebudayaan
dalam arti yang luas adalah perilaku yang telah tertanam, ia merupakan
totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang
dialihkan secara sosial tidak sekedar sebuah catatan ringkas, tetapi dalam
bentuk perilaku melalui pembelajaran sosial.
Ketiga, Kebudayaan
adalah komunikasi simbolis, simbolisme itu adalah keterampilan kelompok,
pengetahuan, sikap, nilai dan motif. Maka dari simbol simbol itu dipelajari dan
disebar luaskan dalam masyarakat melalui institusi.
2.
Pengertian Agama
Para pakar
memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama”
bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa
Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme
di India. Agama terdiri dari kata A yang berarti tidak dan GAMA
berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah suatu peraturan yang
menghindarkan manusia dari segala kekacauan, serta mengantarkan manusia menuju
keteraturan dan ketertiban.
Ada pula yang menyatakan bahwa agama
terangkai dari dua kata, yaitu A
yang berarti tidak, dan GAMA
yang berarti pergi, tetap di tempat, kekal, terwariskan secara turun
temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dalam agama pun
terkandung nilai - nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang
masa. Sementara akhiran A
hanya memberi sifat tentang kekekalan dan karena itu merupakan bentuk dari
keadaan yang kekal.
Ada juga yang menyatakan bahwa
agama terdiri dari tiga suku kata, yaitu: a-ga-ma. A berarti awang-awang , kosong atau hampa. Ga berarti tempat yang
dalam bahasa Bali disebut genah. Sementara
ma berarti
matahari, terang atau sinar. Dari situ lalu diambil satu pengertian bahwa agama
adalah pelajaran yang menguraikan tata cara yang semuanya penuh misteri karena
Tuhan dianggap bersifat rahasia.
Kata tersebut juga kerap berawalan i
dan atau u, dengan demikian masing-masing berbunyi igama
dan ugama. Sebagian para ahli
menyatakan bahwa agama-igama-ugama adalah kosa kata yang telah lama
dipraktikkan oleh masyarakat Bali. Orang Bali memaknai agama sebagai
peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia dengan raja. Sedangkan igama
adalah tata cara yang mengatur hubungan manusia dengan dewa-dewa. Sementara
ugama dipahami sebagai tata cara yang mengatur hubungan antar manusia.
Selain itu,
dikenal pula istilah religion
bahasa Inggris, religio atau
religi dalam
bahasa Latin, al-din dalam bahasa Arab, dan dien
dalam bahasa Semit. Kata-kata itu ditengarai memiliki kemiripan makna dengan
kata “agama” yang berasal dari
bahasa Sansekerta itu. Religious (Inggris) berarti
kesalehan, ketakwaan, atau sesuatu yang sangat mendalam dan berlebih-lebihan.
Yang lain menyatakan bahwa religion
adalah:
a.
keyakinan pada Tuhan atau kekuatan
supramanusia untuk disembah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta.
b.
sistem kepercayaan tertentu.
Maksud dari agama ialah untuk mempersatukan segala
pemeluk-pemeluknya dan mengikat mereka dalam suatu ikatan yang erat sehingga
merupakan batu pembangunan atau mengingat bahwa, hukum - hukum agama itu
dibukukan atau didewankan.
Hadits memberikan
suatu pengertian bahwa ada lima unsur yang perlu mendapat perhatian bisa
memperoleh gambaran tentang apa yang dimaksud dengan agama yang jelas serta
utuh. Kelima unsur itu adalah:
1.
Allah
2.
Kitab
3.
Rasul
4.
Pemimpin dan umat,
5.
Baik mengenai arti masing-masing
maupun kedudukan serta hubungannya satu dengan yang lainnya.
Mukti Ali
mengatakan bahwa, agama adalah percaya pada adanya Tuhan Yang Maha Esa dan
hukum-hukum yang diwahyukan kepada utusan-nya bagi kebahagiaan hidup manusia di
dunia dan akhirat. Mukti Ali membatasi pengertian agama kepada kepercayaan dan
hukum. Mehdi Ha’iri Yazdi berpendapat bahwa, agama adalah kepercayaan kepada
yang Mulak atau Kehendak Mutlak sebegai keperdulian tertinggi. Pengertian ini
menjadikan Tuhan sebagai fokus perhatian dan keperdulian tertinggi agama
sehingga, agama cenderung mengabaikan persoalan tentang kemanusiaan. Agama
akhirnya bersifat teosentris, tanpa perhatian yang cukup terhadap soal - soal
kemiskinan dan keterbelakangan suatu umat.
Harun
Nasution mengemukakan berbagai pengertian tentang agama yang dikemukakan
sejumlah ahli, yaitu:
1)
Pengakuan terhadap adanya suatu
hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi
2)
Pengakuan terhadap adanya suatu
hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang selalu menguasai manusia
3)
Mengikatkan diri pada suatu
bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar
manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia
4)
Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib
yang menimbulkan cara hidup tertentu
5)
Suatu sistem tingkah laku yang berasal
dari suatu kekuatan gaib
6)
Pengakuan terhadap adanya suatu
kewajiban - kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan gaib.
7)
Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang
timbul dari perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat di alam
sekitar manusia
8)
Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan
kepada manusia melalui seorang Rasul.
3.
Macam-macam Agama
1.
Islam
Dari segi Bahasa (lughat), agama berasal dari Arab,
yaitu ad-din. Sedangkan islam dalam bahasa Arab-nya berarti
aslama-yuslimu-islaman yang bisa diartikan dengan keselamatan dan
kesejahteraan. Bisa pula islam berarti sulammun, yatitu tangga, jenjang ke
atas. Islam bisa pula di artikan dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah
SWT.
Dari segi Istilah (terminologi), Agama islam adalah
seluruh ajaran dan hukum – hukumnya yang terdapat di dalam Al-quran yang
diturnkan oleh Allah SWT, yang di wahyukan kepada Rosul-nya, yaitu Nabi
Muhammad SAW untuk disampaikan dan di dakhwakan kepada segenap umat manusia
sehingga manusia yang ada di muka bumi ini akan memperoleh banyak kebahagiaan
hakiki dan bermakna sangat baik ketika hidup di dunia maupun hidup di akhirat.
2.
Kristen
Agama Kristen adalah pengalaman terpimpin dalam tugas
hidup secara kristiani, yang di dalamnya pelajar yang semakin bertumbuh, di
tolong menafsirkan dan mempertimbangkan suatu keadaan hidup nyata yang
diperhadapkan kepadanya oleh setiap bagian kehidupan sehari – hari. Ia
melaksanakan tugas tersebut dengan memanfaatkan suatu sumber pengalaman
keagamaan yang di peroleh umat manusia sepanjang abad, agar menghasilkan gaya
hidup yang bersifat kristen. Dari tolok ukur ini, materi belajar terdiri atas
tiga unsur:
a.
Pengalaman kekinian dari pelajar
sendiri sebagai dasar
b.
Pengalamannya pada masa lampau
c.
Segala pengalaman keagamaan yang
umat manusia rekam dalam kitab – kitab suci-nya di sepanjang abad, khususnya
yang terdapat dalam Al-kitab.
3.
Hindu
Dalam keyakinan Agama Hindu, istilah alam semesta atau
alam raya lebih dikenal dengan istilah Bhuwana Agung yang di dalamnya terdapat
berjuta – juta binatang, planet – planet, matahari, bulan dan lain lain-nya.
Salah satu planet yang paling dekat dan paling penting untuk di ketahui adalah
planet bumi, karena di planet bumi ini tempat manusia, binatang dan tumbuh –
tumbuhan yang hidup, tumbuh dan berkembang biak.
Agama Hindu menurut para ahli, yaitu para maharsi yang
menceritakan dalam Weda, bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan yang
bergelar Brahman. Brahman ini lah yang dipandang oleh umat Hindu sebagai Tat
Yang Agung dan Yang Maha Mulia. Dari Yang Agung ini lah kemudia mulai muncul
alam semesta ini dan Beliau ulalah sebagai pelindung dan atas kehendak Beliau
alam ini dan alam ini akan mengalami kehancuran atau Pralaya. Adapun tujuan Brahman atau Tuhan menciptakan alam semesta
ini adalah sebagai tempat hidup makhluk hidup terutama manusia, sehingga dapat
menikmati kehidupan dalam hidupnya.
4.
Budha
Agama Budha Mahayana adalah bentuk sistematis dari
teori Agama Budha asli. Terbentuk agama ini kira – kira pada tahun 1 sebelum
Masehi. “Maha” berarti besar dan “Yana” berarti kereta kuda. “Mahayana”
memiliki kata lain, yaitu kereta yang digunakan untuk mencapai dunia pencerahan
dari dunia ini. Arti “Maha” di cirikan dengan ajaran – ajaran oleh “Bodissatta”
(bosatu). Semuala adalah “Bodhisattfa”, yang artinya jenis pemahaman yang
datang bersama pencerahan Buddha, atau mencari suatu pencerahan bukan hanya
untuk diri sendiri tetapi juga untuk menyelamatkan semua makhluk yang hidup
Selanjutnya, pengertian yang lain ditambahkan kepada
konsep “ Bodhisattfa” bahwa pencapaian suatu keBuddha-an di asosiasikan dengan
penyelamatan semua makhluk hidup. Konsep “Tathagatagarbha” ini berdasarkan
keyakinan bahwa semua yang hidup bisa menjadi buddha.
Kata sansekerta yang asli untuk “Garbha” dalam
“Tathagatagarbha”, pada dasarnya memiliki dua arti: yang pertama yang artinya
rahim, yang kedua artinya janin. Jadi dapat di terjemahkan menjadi “Rahim yang
memeluk Janin Buddha” atau “Janin Buddha yang memeluk Rahim. Tafsiran ini
menyingkapkan arti sejati agama Buddha, khususnya dengan di gunakannya kata –
kata yang menggambarkan segala fungsi jasmania perempuan untuk ungkapan
tersebut.
5.
Konghucu
Kitab suci Agama Konghucu adalah kitab yang berisikan
ajaran moral yang dapat dijadikan pandangan hidup bagi para pengikut –
pengikutnya. Disamping ini berisikan ajaran moral, kitab suci suatu agama juga
disucikan oleh para pengikut - pengikutnya, dihormati dan dijaga
ontentisitasnya atau keaslian isinya. .... begitu juga dengan Agama Konghucu,
agama ini juga memiliki Kitab suci. Kitab – kitab yang dianggap suci dan
dijadikan pedoman bagi kehidupan beragama umat konghucu adalah Su Si dan Wu
Cing
Sembahyang mengucapkan syukur setiap pagi, sore, saat
,menerima Rezeki (Makanan). Umat konghucu pada pagi hari, sore, dan saat
menerima Rezeki melakukan sembahyang kepada Thian. Kemudian kebaktian kepada Nabi
Konghucu, kebaktiaan untuk para suci, sembahyang bagi leluhur dan kebaktian
kemasyarakatan.
6.
Yahudi
Orang yahudi adalah anak Adam sebagaimana juga anak –
anak bukan dari umat Yahudi. Semua orang bisa menjadi umat Yahudi, semua orang
bisa masuk di agama Yahudi. Yudaisme terbuka bagi siapa saja yang mau masuk.
Namun tertutup bagi siapa saja yang akan meninggalkan Agama ini. Secara prinsip
tidak ada satu orang pun yang bisa berhenti menjadi orang Yahudi. Setiap orang
Yahudi, yang lahir dari ibu Yahudi atau yang masuk ke dalam agama Yahudi,
adalah seorang Yahudi dan akan tetap begitu. Sekira seorang Yahudi masuk ke
agama lain, dia tetap saja menjadi seorang Yahudi. Sekali pun ia sekarang
dijuluki sebagai orang Yahudi yang Murtad.
4.
Hubungan antara Agama dan Kebudayaan
Para antropolog
dan sejarawan menganggap bahwa agama itu merupakan bagian dari kebudayaan.
Karena memandang kebudayaan sebagai titik sentral kehidupan manusia, dan mereka
tidak membedakan antara agama / kepercayaan yang lahir dari keyakinan masyarakat
tertentu, dengan adanya agama yang berasal dari wahyu tuhan kepada Rosul-nya.
Sedangkan para agamawan, umumnya memandang agama sebagai sumber dari titik
sentral kehidupan manusia, terutama yang ada kaitannya dengan system keyakinan
dan system peribadatan. Agama mempunyai pokok-pokok ajaran yang mengikat
pemeluknya, diantara ajaran - ajaran tersebut ada yang bersifat dogmatis (inti
keyakinan), yang tidak mungkin ditukar dengan tradisi dan system kebudayaan
yang berlawanan. Meskipun demikian, dalam agama terdapat ruang yang
memungkinkan adanya penyesuaian atau penyerapan antara agama dengan tradisi dan
budaya yang sangat berlaku di suatu masyarakat. Disana terjadi proses saling
mengisi, saling mewarnai dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Hubungan
antara agama dan kebudayaan memang tidak selalu harmonis. Sedikitnya ada empat
kategori hubungan antara agama dengan kebudayaan, dengan meminjam suatu resep pengamatan
dari Prof. G. Van Der Leeuw sebagai berikut :
a.
Agama dan kebudayaan yang saling menyatu.
b.
Agama dan kebudayaan yang renggang.
c.
Agama dan kebudayaan yang terpisah.
d.
Agama dan kebudayaan yanng saling
mengisi.
Dengan demikian menjadi jelas, bahwa
hubungan antara agama dan kebudayaan tidak bersifat statis, tetapi berkembang
secara dinamis dalam perjalanan sejarah. Walaupun pengamatan dari Prof. G. Van
Der Leeuw tadi mencerminkan pengalaman dari masyarakat Barat yang modern, namun
pengamatan itu dapat kita ambil sebagai manfaat juga dalam mempelajari suatu
perkembangan di negara kita.
5.
Proses Akulturasi antara Islam
dengan Kebudayaan Indonesia
Contoh wujud bentuk akulturasi
budaya islam dengan Kebudayaan Indonesia, terbagi dari 3 bentuk yaitu:
Ø
Bidang Bangunan, contohnya: Masjid
Cirinya: atap tumpang pondasi agak tinggi, adanya
parid atau kolam, adanya serambi, bedug, kaligrafi, menara dan gerbang
Ø
Makam
Cirinya: cungkum atau (rumah makam). Ditempat tinggal,
nisan, sebuah hiasan dan tulisan kaligrafi
Ø
Seni Sastra
·
HIKAYAT
Cerita
ataupun dongeng dari sebuah karya sastra melayu berbentuk prosa yang memuat
sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang tidak masuk akal sering bertitik
tolak dari peristiwa bersejarah, contohnya: Amir Hamza, Hikayat simiskin
·
Babad
Cerita sebuah sejarah yang lebih bersifat dongeng
merupakan sebuah rekaan pujangga keraton yang dianggap sebagai peristiwa yang
sangat bersejarah, contohnya: babad tanah Jawa dan babad Cirebon.
·
Suluk
Sebuah kitab yang mencerminkan sebuah masalah tasawuf
yaitu jalan ke arah kesempurnaan batin, contohnya: suluk sukarsa, suluk wujil
dan malang sumbing
·
Primbon
Sebuah ramalan – ramalan yang berasal dari jawa
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Pengertian
kebudayaan adalah Kebudayaan dalam arti yang luas adalah perilaku yang telah
tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia,
akumulasi dari pengalaman yang dialihkan secara sosial tidak sekedar sebuah
catatan ringkas, tetapi dalam bentuk perilaku melalui pembelajaran sosial.
Pengertian
agama Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan
diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan
dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata A yang
berarti tidak dan GAMA berarti kacau. Dengan demikian,
agama adalah suatu peraturan yang menghindarkan manusia dari segala kekacauan,
serta mengantarkan manusia menuju keteraturan dan ketertiban. Macam-macam agama
di indonesia adalah islam,kristen,yahudi,katolik,konghucu,yahudi. Hubungan
agama dan kebudyaan adalah karena memandang kebudayaan sebagai titik sentral
kehidupan manusia, dan mereka tidak membedakan antara agama / kepercayaan yang
lahir dari keyakinan masyarakat tertentu, dengan adanya agama yang berasal dari
wahyu tuhan kepada Rosul-nya. Sedangkan para agamawan, umumnya memandang agama
sebagai sumber dari titik sentral kehidupan manusia, terutama yang ada
kaitannya dengan system keyakinan dan system peribadatan. Proses Akulturasi
antara Islam dengan Kebudayaan yaitu bidang bangunan, makam, seni sastra,
hikayat, babad, suluk, primbon.
DAFTAR PUSTAKA
-
Kurniawan Beni, 2007. Pendidikan agama islam, PTA.
-
Boehlke Richard, 2009. Sejarah Perkembangan pikiran dan praktek
pendidikan agama kristen. Jakarta:
gunung agung
-
Wayan I, 2007. Agama Hindu SMP. Jakarta: ganeca exact
-
Becher jeanne, 2004. Perempuan dan agama. Jakarta: gunung
mulia
-
Supriatna nana dkk, 2006. Ilmu pengetahuan sosial.
-
Geertz, Clifford. (1992). Kebudayaan
dan Agama. Yogyakarta : Kanisius
- Hamka. (1975). Sejarah Umat Islam IV.
Jakarta : Bulan Bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar